Dapatkan Informasi Lebih Lanjut
Mading
Home ⬅  Kabar  ⬅   Mengukir Masa Depan di Depok: Harapan dan Testimoni Orang Tua Siswa Indonesia Bisa Membaca
Mengukir Masa Depan di Depok: Harapan dan Testimoni Orang Tua Siswa Indonesia Bisa Membaca

DEPOK - Sejak awal bergerak di Depok, Jawa Barat, Indonesia Bisa Membaca (IBM) selalu berkomitmen menghadirkan kelompok belajar bebas biaya yang memberikan dampak nyata bagi pendidikan dan perkembangan anak-anak.

Sebagai program yang berada di bawah naungan Sisi Baik Project, IBM tidak sekadar mengajarkan kemampuan dasar seperti baca dan tulis, tetapi juga ikut andil dalam pembentukan kemandirian serta karakter setiap anak didik. Perjalanan ini tentu tidak lepas dari kepercayaan yang diberikan kepada kami.

Berikut adalah rangkuman kisah, harapan, serta masukan dari lima orang tua siswa yang menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memberikan yang terbaik.

Kebanggaan dan Harapan Tulus dari Ibu

Bagi para ibu, pendidikan adalah kunci utama untuk masa depan yang lebih baik. Sulastri (55 tahun), merasa terharu dan bersyukur atas kesempatan belajar bagi putrinya, Mai Lisa (10 tahun). Ia menyekolahkan putrinya dengan harapan agar kelak menjadi anak yang berguna bagi orang tua dan bangsa. "Saya bangga dengan adanya sekolahan ini. Anak saya jadi bisa sekolah," ungkap Sulastri.

Sulastri
Sulastri

Perasaan senada juga disampaikan oleh Yanti (46 tahun), ibu dari Ersyah Latifah Roni (8 tahun). Ia merasa sangat bangga melihat putrinya kini memiliki kemampuan membaca dan menulis. "Saya bangga anak saya sekolah di IBM. Supaya anak saya menjadi pintar dan cerdas," ujarnya.

Yanti
Yanti

Kemajuan Akademis dan Pembangunan Karakter

Perkembangan akademis dan kesiapan menuju jenjang pendidikan formal merupakan sorotan utama. Tuti Suningsih (52 tahun) menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pendidik di IBM, karena putrinya, Raisa Putri Hidayat (7 tahun), kini bisa mengerti dan mengikuti pelajaran dengan baik. Bekal ilmu ini sangat penting karena Raisa akan segera masuk Sekolah Dasar (SD) pada tahun ini.

Tuti
Tuti Suningsih

Selain kemampuan akademis, perubahan karakter anak juga menjadi pencapaian yang membanggakan. Maryam Hafifah (40 tahun) menceritakan bahwa putranya, Muhammad Abiel Arsalan (7 tahun), kini tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri dan penuh semangat.

Pentingnya pendidikan karakter ini sangat dirasakan oleh Antonius Labina (56 tahun), ayah dari Revaldo Labina (6 tahun). Menurutnya, pendidikan bagi anak usia dini tidak hanya soal belajar, tetapi juga pembentukan akal budi.

Anton
Antonius Labina

“Satu, mengubah karakter. Dan puji Tuhan, syukur dalam selama setahun ini memang ada perubahan,” tegas Antonius.

Ia bercerita bahwa anaknya kini lebih mandiri, tahu cara menyapu dan mengepel, serta memiliki antusiasme yang tinggi untuk bangun pagi dan berangkat ke sekolah.

Masukan Konstruktif untuk Kemajuan Bersama

Demi mendukung kemajuan fasilitas dan sistem belajar di IBM, para orang tua juga memberikan masukan yang sangat berharga bagi kami. Antonius memberikan saran mengenai ritme pengajaran. Ia menyarankan agar para guru tidak mengajar terlalu cepat karena anak-anak usia dini memiliki daya tangkap yang berbeda-beda.

Ia juga mengusulkan agar kami membuat program di mana orang tua hanya diizinkan mendampingi anak di dalam kelas selama 6 bulan pertama, untuk kemudian dilepas sepenuhnya agar anak bisa benar-benar mandiri.

Maryam Hafifah
Maryam Hafifah

Dari sisi kenyamanan, Maryam menyarankan peningkatan fasilitas belajar agar lebih kondusif bagi anak-anak. Ia berharap ke depannya pendidikan di IBM bisa lebih inklusif dengan dukungan fasilitas ruangan yang lebih baik dan lingkungan yang terjamin kebersihannya.

Pada akhirnya, seluruh dukungan dan doa yang disatukan oleh para orang tua menjadi energi tersendiri bagi kami. Mereka berharap kelompok belajar ini terus maju, semakin berjaya, dan semakin banyak memberikan manfaat. Kami akan terus berupaya menjadikan harapan-harapan tersebut sebagai kenyataan.